Sports Betting Network_Malaysia Online Gambling Company_Indonesia online casino

  • 时间:
  • 浏览:0

Live BLive Baccarat Platformaccarat PlatformLive Baccarat PlatformnaLive Baccarat Platformmun hiLive Baccarat Platformdup sedang berkelakar padamu, selepas lulus kamu malah diterima di perusahaan Oil and Gas asing ternama. Gaji dua digit dan berbagai tunjangan akhirnya membuatmu menyerah.

Jika memilih untuk menutup mata pada urusan cinta, kamu akan mengalihkan kebutuhan tersebut pada berbagai saluran lain. Kamu bisa jadi seorang over-achiever di pendidikan dan karir, atau justru menumpahkan rasa cinta yang kamu miliki pada keluarga dan sesama manusia yang membutuhkan.

Melihat rekan sejawat di sekeliling yang nampak sudah mapan dengan hidupnya membuatmu mempertanyakan nasibmu sendiri.

Dari kebimbangan hebat soal pekerjaan ini kamu akan belajar bahwa dalam hidup kamu tidak bisa selalu mendapatkan apa yang kamu mau. Ada kalanya kamu harus merelakan hal yang kamu sukai demi meraih pencapaian yang jauh lebih tinggi.

Di usia seperempat abad ini banyak pertanyaan-pertanyaan substansial tentang kehidupan yang tiba-tiba muncul di otakmu.

Di masa kuliah kamu adalah aktivis anti penanaman modal asing dalam bidang energi. Kamu adalah garda terdepan yang siap melawan setiap ada perusahaan asing di bidang energi mendapatkan izin operasi di Indonesia. Pendapatmu telah kukuh, energi adalah hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak — maka sepantasnya bidang ini dikuasai oleh negara.

Berkaca dari berbagai contoh nyata di depan mata, kamu pun memutuskan untuk membangun hidup sesuai dengan nilai-nilai yang kamu yakini. Namun di saat bersamaan kamu pun masih merasa bimbang, belum sepenuhnya yakin bahwa jalan ini akan membawa kebaikan.

Beberapa orang akan getol mencari pasangan di usia yang satu ini. Caranya bisa macam-macam: minta dikenalkan teman, melihat buku kenangan SMA dan mencari cinta lama yang belum tercapai, sampai ikut situs perjodohan yang lazim ditemukan di internet.

Sementara dulu saat kuliah kegalauanmu berkutat sebatas soal pacar, putus cinta, uang habis di tengah bulan, dan paper yang terpaksa dikerjakan dengan sistem kebut semalam.

Bagi anak muda 25-an yang belum lulus kuliah, biasanya mereka akan getol berkejaran dengan waktu. Enggan di-DO dan makin malas mendengar cericit keluarga. Sementara bagi yang bimbang mau lanjut S2 atau tidak akan rajin berburu beasiswa dan menimbang-nimbang, mana yang lebih menguntungkan: mengejar karir terus atau sekolah dulu untuk sementara waktu?

“Kapan lulus?”

Ada rasa sedih dan menyesal saat kamu akhirnya tahu bahwa beberapa ikatan pertemanan berakhir karena kealpaanmu menjaganya. Namun dari kejadian ini juga matamu terbuka, pertemanan memang membutuhkan usaha. Kamu harus menyisihkan waktu dan tenaga untuk melanggengkannya.

Namun di titik goyah pada usia 25-an ini, kamu sedang merasa tidak yakin pada kemampuan yang kamu miliki. Kamu sedang takut kemampuan dalam dirimu tidak cukup besar untuk mengantarkanmu ke pintu kesuksesan.

Sakralnya usia 25-an juga bisa menciptakan kegalauan berkepanjangan dalam diri seseorang. Krisis di usia 25-an yang sering dikenal dengan Quarter Life Crisis (krisis hidup seperempat abad) ini tidak jarang membuat seseorang mempertanyakan tujuan dan arah hidup yang sedang dijalani.

Ada rasa tidak enak saat (lagi-lagi) harus merepotkan kedua orang tuamu yang kini kian menua. Namun dari pengalaman-pengalaman macam inilah kamu sadar bahwa kebaikan mereka tidak akan pernah bisa dibayar dengan apapun.

Egomu sebagai orang dewasa sudah tinggi, kamu tidak lagi nyaman bergantung pada orang lain. Kamu sudah ingin bisa mampu memenuhi berbagai kebutuhanmu sendiri, tanpa merepotkan orang tua dan keluargamu. Namun ada beberapa hal yang secara logis belum bisa kamu lakukan.

So, chill aja! Ini cuma cara Tuhan mendidikmu biar jadi lebih awesome nantinya.

Matamu akan melirik orang yang sering jadi pendampingmu menghadiri undangan perayaan pernikahan kawan. Sembari membayangkan bagaimana jika kamu dan dia yang duduk di pelaminan. Mungkinkah? Cocokkah kalian bersanding sebagai suami istri?

Selain kebimbangan soal pilihan pekerjaan, anak muda yang sudah bekerja di usia 25-an juga punya kegalauannya sendiri.

Sebelumnya kamu adalah orang yang tidak pernah kesepian, selalu ada teman yang siap mendampingi dalam setiap kesempatan. Mulai dari sekedar makan, jalan-jalan, sampai berbagi cerita ketika ada masalah.

Di usia inilah kegalauan terbesar soal pekerjaan akan menghampirimu. Kegalauanmu naik tingkat:

Teman-teman sudah mulai menapaki jenjang baru kehidupan, sementara kamu masih begini-begini aja…

“Kamu jadi PNS aja, dong.”

Di usia 25-an kamu akan mulai mempertanyakan kemana arah hubungan yang sedang kamu dan pacarmu jalani. Apakah dia serius padamu? Layakkah dia kamu jadikan perhentian terakhir dalam petualangan cinta? Mampukah kalian bersinergi menciptakan masa depan yang lebih baik?

“Duuh, jadi apa ya? PNS? Pegawai Swasta? Atau buka usaha sendiri?”

Kebimbangan soal pendidikan kerap menyapa banyak anak muda usia 25-an. Rasa bimbang ini bisa muncul dari kewajiban kuliah yang belum juga selesai (biasanya terganjal skripsi) atau juga bisa bersumber dari kebingungan apakah perlu melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya.

“Pacarnya mana?”

Disadari atau tidak, melihat satu persatu teman mulai menikah sedikit banyak membuatmu tertekan. Terlebih jika kehidupan romantismu belum jelas saat itu. Rasanya seperti tertinggal.

Di umur ini, barulah matamu tebuka soal betapa pentingnya pendidikan. Diam-diam kamu bersyukur, selama ini ayah dan ibumu getol mengingatkanmu untuk terus rajin belajar. Kalau tidak, mungkin sekarang kamu tak lebih dari remah-remah rempeyek yang tertinggal di dasar toples.

Atau, jadi getol menggiati hobi yang selama ini hanya dilakoni setengah hati. Hal ini dilakukan demi membuat sisi kosong dalam dirinya kembali “penuh”.

Akankah kamu sesukses mereka dalam hidup? Apakah kenyamanan hidup juga bisa kamu rasakan? Haruskah kamu mengikuti apa yang mereka lakukan agar bisa mendapatkan pencapaian yang sepadan?

“Kamu kerja yang mapan aja.”

Bertolak belakangnya idealisme dan realita yang kamu jalani membuatmu bertanya-tanya, apakah keputusan yang kamu ambil ini sudah tepat? Apakah ini artinya kamu jadi pecundang karena tidak bisa mempertahankan nilai yang selama ini kamu yakini?

Ada juga kelompok yang enggan mengurus masalah percintaan di umur yang satu ini. Urusan cinta seakan sudah berada di luar orbit kehidupan. Pemahaman macam ini bisa muncul karena kekecewaan yang datang bertubi-tubi, pun juga bisa dari pengalaman disakiti dan tersakiti.

“Kapan nikah?”

Kamu pun mau mewujudkan harapan mereka untuk memiliki cucu, tapi kamu tak ingin menikah (dan tak mungkin punya anak tentunya) — bisakah mereka menerima pilihanmu untuk melakukan adopsi?

Tapi di usiamu yang ke 25, kamu memandang daftar panjang nomor kontak teman-teman di ponselmu dan menyadari: hanya sedikit dari mereka yang terus berhubungan denganmu hingga hari ini.

Kamu tak ingin kehilangan kenyamanan, tapi juga ingin mendapatkan pekerjaan yang mampu memberikan jaminan masa depan.

Di titik ini akan banyak obrolan dengan diri sendiri yang terjadi dalam dirimu. Tanpa banyak suara, kamu berusaha bepikir keras untuk menemukan jalan tengah terbaik bagi tuntutan keluarga dan keinginan pribadimu.

Di depan matamu berkelebat bayangan orang tua yang sangat ingin melihatmu sukses. Terbayang betapa banyak pengorbanan yang  telah mereka berikan untukmu, betapa ingin kamu membalasnya dengan keberhasilanmu.

Satu teman menikah, kamu masih datang dengan persiapan yang mumpuni. Berdandan, bawa kado, mulai memilih dan mempersiapkan baju dari sepekan sebelumnya.

Ada satu hal unik yang banyak dilakukan oleh anak muda usia 25-an. Kebanyakan dari mereka senang melakukan hal-hal menantang yang selama hidup belum pernah dilakukan.

Orang tua masih gigih pada pendapat mereka, bahwa PNS adalah sebaik-baiknya pekerjaan. Sementara kamu merasa gaji yang ditawarkan oleh pekerjaan sebagai abdi negara tak sebanding dengan gaji di bidang swasta.

Apakah kamu anak muda yang hampir mencapai umur 25 tahun? Atau justru kamu sedang menjalani usia sakral ini? Benarkah kegalauan dan kebimbangan ini yang kamu rasakan?

Usia 25 tahun adalah umur yang sakral bagi banyak orang Indonesia. Di usia ini seseorang dipercaya telah mencapai tingkat kedewasaannya sebagai manusia. Maka tidak mengherankan jika di usia seperempat abad banyak perubahan dan keputusan besar yang diambil.

Jika saat ini kamu sedang menghadapi krisis seperempat abad ini, dijalani saja ya guys! Tenang dan lakukan yang terbaik. Kalau sudah tiba waktunya, pasti ada pelajaran yang bisa kamu dapatkan kok dari pengalaman ini.

Kadang sering takut gak bisa sukses via imgkid.com

Rasa sepi karena teman-teman main mulai menipis digantikan oleh keceriaan traveling bareng teman kantor. Rasa lelah dari pekerjaan yang menumpuk dibayar dengan membeli pernak-pernik hobi yang selama ini diidamkan. Selalu ada cara untuk mengakali pahitnya kehidupan.

Usia 25-an seakan jadi momen refleksi. Menyadarkanmu bahwa cinta tak melulu perkara kemesraan sepasang manusia. Masih banyak jenis cinta lain yang bisa kamu berikan dan kamu terima.

Benturan antara keinginan pribadi dan keinginan untuk memenuhi harapan keluarga akan terus bergejolak dalam dadamu sampai batas waktu yang belum bisa ditentukan.

Akhirnya kamu sadar, krisis seperempat abad ini adalah hal yang tak terhindarkan dalam kehidupan. Lulus dari krisis ini berarti kamu sudah siap menghadapi ujian-ujian lain yang akan kembali menghadangmu nanti.

Beberapa terjebak dalam pekerjaan yang dibenci setengah mati. sisanya justru mendapatkan pekerjaan yang sudah sangat sesuai dengan kata hati. Hingga susah move-on ke pekerjaan lain yang menawarkan tingkat kesejahteraan lebih tinggi.

Tapi keadaan berubah saat dalam satu hari kamu mulai menghadiri 2 sampai 3 undangan sekaligus. Di umur 25-an undangan menghadiri acara pernikahan memang jadi agenda rutin setiap akhir pekan.

Keluargamu memang banyak menuntut dan tidak jarang membuatmu sakit kepala. Namun jauh di lubuk hatimu, kamu hanya ingin membuat mereka bangga dan bahagia. Ada rasa perih dalam dirimu setiap tidak bisa memenuhi harapan-harapan yang mereka tujukan padamu.

Kamu mulai mempertanyakan tujuan hidup yang ingin kamu capai, gaya hidup macam apa yang ingin kamu lakoni, sampai ke kebahagiaan seperti apa yang ingin kamu raih dalam hidup.

Pertanyaan dan pernyataan macam di atas makin sering menyapa hari-harimu. Kamu merasa dikejar oleh waktu, ditekan dari kanan dan kiri dengan berbagai harapan yang digantungkan orang-orang terdekat padamu.

Kamu mulai memanggil kembali kenangan-kenangan manis semasa kuliah dan SMA. Termasuk pencapaian-pencapaian yang ada di dalamnya. Rasa-rasanya dulu kamu pernah jadi orang yang punya tujuan jelas dan berprestasi, deh. Tapi kenapa sekarang rasanya seperti kehilangan arah seperti ini sih?

Seumur hidup kamu akan punya hutang budi atas jasa-jasa mereka padamu selama ini.

Momen ini bisa membuatmu frustrasi, rasanya apapun yang kamu lakukan tidak akan bisa membuat orang-orang tersayangmu puas.

Inilah usia saat ibu dan ayahmu tak akan lagi membatasimu berhubungan dekat dengan lawan jenis. Saat masih sekolah dan kuliah dulu, pacaran jadi larangan. Sekarang, di usiamu yang sudah 25-an kamu justru didorong dan diarahkan untuk segera menemukan dia yang bisa memberi pendampingan.

Sebenarnya tanpa disadari, ada konflik besar yang sedang terjadi dalam dirimu. Kamu ingin ayah-ibumu tersenyum melihatmu mapan secara finansial, tapi bukan lewat jadi PNS-lah cara yang ingin kamu lakoni.

Keluarga dan orang-orang terdekat pun tidak jarang campur tangan. Kamu akan sering ditawari untuk berkenalan dengan anak dari temannya Tante X atau secara tiba-tiba diberi nomor telepon keponakan teman arisan ibumu. Rasanya semesta sedang berkonspirasi untuk membebaskanmu dari status jomblo, deh!

Gajimu sebagai fresh graduate belum cukup untuk DP motor atau mobil yang kamu perlukan sebagai alat transportasi sehari-hari. Sesekali orang tuamu juga masih turun tangan membantu jika kamu terkapar sakit di kamar kos sampai tidak mampu keluar beli makan.