U.S. online gambling_Ranking of European Bookmakers_U.S. legal online casinos_The foreign baccarat master's play style_The most stable baccarat play

  • 时间:
  • 浏览:0

D188BETan terakh188BETir,

Tanpa kita 188BETsadari, kita seringkali menjadi mesin pembunuh itu sendiri, membunuh orang-orang terdekat kita se188BETcara perlahan dengan hal-hal 188BETyang tak kita duga. Yuk pikirkan kembali apa yang hendak kita tanyakan dan lakukan, #UpgradeDirimu dengan tidak jadi orang yang suka menyakiti perasaan teman atau orang lain.

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang bentuk perhatian orang lain terhadap kehidupan kita. Namun dalam titik tertentu, hal-hal tersebut menjadi sebuah mesin pembunuh yang jitu. Terlebih jika kamu adalah orang yang mempunyai banyak peer group di luar sana, yang mana setiap peer group akan menciptakan mesin pembunuhnya sendiri-sendiri.

Bayangkan bagaimana kita secara perlahan dimatikan oleh hal-hal seperti itu, mereka yang tak akan pernah puas atas pencapaian orang lain dan menciptakan sebuah standar yang lagi-lagi harus selalu kita capai, harus kita ikuti. Misalnya saja, ketika kita lulus kuliah kemudian seorang kawan menanyakan kita akan bekerja di mana, lantas jika ketika kita telah bekerja, ada kawan lain menanyakan kepada kita mengapa tidak bekerja di perusahaan lain.

Terlebih bagi mereka yang menginjak usia 20an, di mana kita sedang berlomba-lomba memenuhi tuntutan sosial yang begitu keras, mewujudkan aktualisasi diri dan mencari pengakuan. Melihat postingan orang lain yang dirasa lebih di atas dibanding kita adalah sebuah cambuk yang begitu menyakitkan. Dan lagi lagi kita dipaksa memenuhi standar kehidupan orang lain. Efek sampingnya? tentu saja kita akan merasa kesulitan dalam mengapresiasi dan menyayangi diri sendiri, kita tak akan pernah melihat bahwa kita telah mencapai suatu pencapaian dalam hidup.

Atau mungkin ketika kita menjalin hubungan dengan seseorang, kemudian muncul pertanyaan kapan kita akan menikah, lalu jika sudah menikah akan muncul lagi pertanyaan kenapa tak kunjung punya buah hati, begitu terus sampai ujung peradaban dunia. Singkatnya, kita hidup untuk memenuhi standar orang lain, menyeramkan sekali.

Usia 20an bagi sebagian orang adalah fase yang begitu mengerikan, orang-orang berlomba-lomba menciptakan standar yang mungkin secara tidak sadar akan menuntut orang lain juga untuk mengikuti mereka. Dan bagi yang tidak mampu, maka selamat datang para tersepelekan.

Hal-hal yang terkadang kita lupakan adalah bagaimana kita mencintai dan mengapresiasi diri sendiri. Berhenti menggunakan standar orang lain untuk membahagiakan diri sendiri. Sebab bagaimanapun juga, semakin kamu mematok bahwa kebahagiaan dan pencapaian orang lain harus kamu capai juga, maka perlahan-lahan kamu akan kehilangan diri sendiri.

Namun, setiap kali merasa tersepelekan, aku jadi ingat sebuah kutipan dari mas Farid Stevy, “Berbahagialah wahai kalian para tersepelekan, dengan begitu kita punya kesempatan besar untuk mengejutkan”.

Mulai dari ditanya kapan menyelesaikan masa studi, apa yang hendak dilakukan setelah lulus. Bahkan pertanyaan-pertanyaan tidak penting lainnya seperti mengapa kita menjadi gemuk atau kurus, atau bahkan perkara yang lebih komunal lagi seperti kapan menikah, mengapa tak kunjung punya anak, mengapa tak mau menambah momongan dan lain sebagainya.

Belum lagi kehidupan media sosial yang tingkat standarnya ditentukan dengan begitu bias. Berapa jumlah pengikut, “love”, dan “share”, serta berapa komentar yang menyanjung mereka. Aku sepakat bahwa kehidupan di media sosial terkadang menjadi hal yang lebih menyenangkan dibanding dunia nyata dalam beberapa hal. Kita dapat membagikan apapun yang kita inginkan, momen bahagia dan pencapaian-pencapaian yang telah kita dapatkan. Sekali lagi media sosial memberikan candu kepada kita dengan begitu besar.

Aku baru saja menyadari, bahwa ternyata lingkungan dapat membunuhmu dengan perlahan-lahan. Dan itu sering kali menjelma sebagai pertanyaan-pertanyaan casual yang sering dilempar orang selayaknya bertanya apa kabar.