Sabah Sports Website_Online sports betting_How to play baccarat_Download

  • 时间:
  • 浏览:0

MGambling to make moneyaaf sayanGambling to make moneygambGambling to make moneyling to make moneyg, jika aku sering merepotkanmu, membuatmu lelah dengan semua omelanku. Membuatmu kesal dengan sikap egoisku, membuatmu bingung dengan apa yang sebenarnya kumau. Tapi percayalah, sayang. Di sisi lain, aku sedang mempersiapkan diri untuk menjadi calon istri dan ibu yang baik untukmu dan untuk generasimu. Yakinlah bahwa aku selalu berusaha melakukan hal terbaik versiku.

Kau tahu, aku tak pernah memikirkan ini sebelumnya. Jangankan memikirkan cinta, saat itu menepis luka saja aku kewalahan sudah.

Sayang, aku tak peduli dengan ucapan seperti itu. Dan kau, juga jangan pernah ragu dengan usiaku.

“Sayang, terima kasih sudah memperjuangkan hubungan kita.”

Padahal masalah itu bukan sepenuhnya salahmu.

“Hehehe... Maklumilah, sayang. Aku masih belia untuk memikirkan itu dulunya!”

“Nanti aku akan menjadi seorang ibu yang akan merinci setiap kebutuhan anaknya dan imamnya. Aku bisa, Sayang. Aku pasti bisa. Kau percaya, kan?”

Sayang, terima kasih sudah mau mengajakku ke jalan yang lebih indah dari sebelumnya. Entah bagaimana harus kukatakan untuk semua hal yang sudah kau lakukan. Terima kasih sudah berani datang menghadap sang orang tua, meminta izin untuk menjadi imam putrinya, dan sudah berani meminta izin untuk mengambil alih tanggung jawab sang ayah.

Untukmu, pria yang akan mengambil alih tanggung jawab ayahku, semoga Tuhan selalu menggariskan kita bersama.

Terima kasih sudah berniat baik dan siap untuk menghalalkan hubungan kita. Terima kasih, karenamu aku tak lagi takut membuang waktuku untuk cinta yang sia-sisa di masa muda. Semoga bahagia ini tak hanya sampai di sini. Semoga nanti, kau dan aku selalu bersama-sama sampai mati bahkan sampai di akhirat nanti. Meski kita pribadi yang berbeda, semoga denganmu aku selalu baik-baik saja.

Aku tahu kau memang sudah dewasa, Sayang. Sudah semestinya kau menjalin cinta yang tak lagi sama saat pikiranmu labil dan saat masih remaja. Berbeda denganku, yang dari awal saja sudah tak pernah berpikir akan sejauh ini hubungan kita.

Mengingat saat itu, aku percaya bahwa pertemuan kita memang sudah terencana indah.

Sekarang, tidak ada lagi yang perlu kutakutkan. Aku justru bangga sudah diberikan pasangan sepertimu, yang bisa membimbing dan melindungiku kapanpun saat kubutuh. Aku tak lagi takut kehilangan masa muda bersama teman-teman. Karena sifat dewasamu, karena sifat mengertimu yang tak pernah mengekang dan membuatku nyaman.

Meski selama bersamaku, kau tak pernah menuntut apa-apa. Tapi aku sadar bahwa semua yang kau anggap tak masalah hari ini, belum tentu sama nantinya. Aku sadar bahwa hidup berumah tangga bukan hanya mengkonsumsi cinta saja. Maka dari itu, aku mau belajar. Agar aku pun tak hanya bisa menunjukkan padamu, tapi juga pada calon ibu mertuaku bahwa anaknya ada pada wanita yang tepat.

"Kenapa kamu mau menjadi calon ibu-ibu, sedangkan kamu masih bisa bersenang-senang dengan masa mudamu?”

Keseriusanmu, dengan selalu mempertahankanku, membuatku yakin kau bukan manusia pesimis dan penyerah. Meski kita pernah berjalan tak searah, tapi akhirnya kita kembali dalam tawa dan kau pun berhasil membuatku kembali jatuh cinta.

Lihat aku sekarang! Aku sedang belajar banyak untuk menjadi calon pendamping hidup, juga ibu dari anak-anakmu. Dulu, aku memang tak mengerti soal bumbu-bumbu. Jangankan mengerti. Membedakan jahe dan lengkuas saja, aku pernah keliru. Tapi sekali lagi sayang, sekarang aku tengah berusaha jadi yang terbaik versiku.

"Denganmu, kurasa masa mudaku tak pernah terenggut."

Setiap hubungan pasti mempunyai lika liku. Tak terkecuali aku dan kamu. Perbedaan kita kurasa memang sulit untuk menyatu. Tak jarang, jika kita sering saling diam kata dan menutup mata. Kau yang tak peka dan aku yang sulit untuk mengalah. Hingga suatu saat, aku ingin pergi meninggalkanmu. Tapi apa yang kau lakukan? Kau justru mengejarku, meminta maaf seolah semua itu salahmu.

Kata orang,

Perkenalan kita cukup aneh. Aku baru sadar bahwa ada orang baru di sekitarku. Padahal jika aku tak acuh, mungkin aku sudah menyadari kehadiranmu dari dulu. Kau pun sama, tak pernah menyadari kehadiranku di sekitarmu. Dan ketika tiba waktu itu, kau menghampiriku dan tak segan menyapaku,

Aku tak pernah berpikir bahwa hubungan kita akan sejauh ini sebelumnya. Bukan bermaksud tak serius dari awal menjalin hubungan ini, tapi melihat masa lalu membuatku tak memikirkan lebih jauh. Membuatku tak mengharap terlalu tinggi. Tapi nyatanya, yang kupikir salah. Semakin lama kau semakin menunjukan rasa cinta yang sesungguhnya, meski tanpa embel-embel kata, tanpa coklat boneka atupun hadiah setiap bulannya.

“Hai, siapa namamu?” begitu katamu.

“Usia kita memang jauh berbeda, tapi terima kasih sudah mau mengerti sifat kekanak-kanakanku yang mungkin membuatmu cukup lelah.”

Caramu memperlakukanku seperti seorang permaisuri di atas segalanya, membuatku merasa cukup untuk kembali jatuh cinta. Cukup untuk kembali percaya. Cukup untuk melihat bahwa ada cinta yang sedang kau perjuangkan sekuat hati dan tenaga.