Kisah Ibu yang Terpisah dari 7 Anaknya Selama 38 Tahun karena G30「bet365 alternate URL」S/PKI

  • 时间:
  • 浏览:0

"Jadi kita jubet365 alternate URLbet365 alternate URLga bertanya, 'bet365 alternate URLmama mana'? 'Kayaknya meninggal'. Berpikir negatif semua, karena tidak ada berita sama-sekali. Tidak ada kabar mengenai mama," ungkap Maya saat ditemui BBC News Indonesia di kediamannya, awal pekan kedua September.

"Karena itu membekas sekali. Bayangkan, saat kita bermain, [diteriaki] 'PKI, PKI'," kata pria kelahiran 1956 dan ayah enam anak ini.

Tidak lama kemudian, Sisca menghadiri kongres Organisasi Jurnalis Internasional di Chile, 28 Oktober 1965. Sejak saat itulah dia tidak pernah bisa pulang ke Indonesia setelah meletus G30S.

Mereka saat itu tak tahu dibawa ke mana ayahnya — belasan tahun kemudian barulah diketahui ayahnya dibui di penjara Salemba, Jakarta, tanpa diadili karena dikaitkan pilihan politik ibu anak-anak itu.

Lalu dia menulis: "Dalam hidup [saya] hal itu sudah terjadi beberapa kali, antara lain 17 Agustus 1945 dan pada 30 September 1965."

"Zaman itu sudah ada disko, saya ikut saja. Diajak ke acara ulang tahun, saya datang. Tapi saya enggak terlalu mendalam sama mereka.

Dalam buku Pesindo, Pemuda Sosialis Indonesia 1945-1950 (terbitan 2016), karya Norman Joshua Soelias, Francisca bersaksi:

Santi — panggilan anak kelima ini — pun tak pernah membayangkan peristiwa di hari-hari itu akan membuat dia dan enam saudaranya bakal terpisah belasan hingga puluhan tahun dengan ayah dan ibunya.

Beberapa tentara bersenjata lengkap turun dari truk dan mencari ayahnya. Ketakutan mulai merayapi bocah-bocah itu. Ayahnya lantas diciduk rombongan tentara.

"Ada kata-kata 'tangkap hidup atau mati Francisca' dengan foto ibu saya. Itu tekanan yang bukan main buat saya pada waktu itu," katanya lirih.

Baca juga: Fakta Sayur Genjer yang Dikaitkan dengan G30S/PKI, Sejarah sampai Resep

"Saya juga menolak Penataran P4, saya enggak busuk kok. Saya merasa dikotak-kotakkan, khusus anak tapol (tahanan politik) di kelurahan jam segini, saya enggak mau," aku Maya yang sarjana jurnalistik.

Kembali ke tragedi 1965. Walaupun sama sekali tak menduga akan terjadi peristiwa setragis itu, Sisca memiliki firasat bahwa akan terjadi malapetaka besar.

"Selama ini hidup saya diwarnai oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi dengan mendadak," tulisnya dalam karangan pendek berjudul Penilaianku terhadap masa kini atas dasar pengalamanku masa lampau.

Sang ibu, Francisca Fanggidaej adalah anggota DPR Gotong Royong yang ditunjuk Presiden Sukarno dari wakil golongan wartawan sejak 1957 — dia jurnalis Kantor Berita Antara dan memimpin INPS (Indonesian National Press Service).

Keberadaan foto dan tulisan itu, rupanya, juga membuat Santi sangat terpukul. Ketika itu dia siswa sebuah sekolah dasar yang letaknya tidak jauh dari dinding rumah tersebut.

Suasana di pagi hari di awal Oktober 1965 itu semestinya tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

"Kita hanya bisa menangis, [seraya setengah berteriak] 'Bapak, bapak, bapak kenapa?'" Santi kepada BBC News Indonesia, pertengahan September lalu, mencoba mengingat lagi kejadian pahit di pagi itu.

Kemudian dia menghadiri Konferensi Trikontinental di Havana, Kuba, pada Januari 1966. Paspornya sudah dianggap tidak berlaku mulai saat itu.

Dan pagi itu terlihat normal-normal saja, kecuali kerisauan Savitri Sasanti Rini, salah-seorang bocah itu, ketika memergoki ayahnya terlihat gelisah sehari sebelumnya.

"Anak-anak masih kecil..." tulisnya. "Aku ingat, sebelum aku berangkat ke Aljazair dan terus ke Chile, kutinggali hanya dengan segebung uang kertas. Tidak kuhitung lagi berapa."

Salah seorang anaknya, Nusa Eka Indriya, berusia sembilan tahun saat mereka diusir dari rumahnya tidak lama setelah G30S 1965, berulang-ulang menerima stigma dari sebagian masyarakat.

Dalam memoarnya, dia mengaku peristiwa G30S "sama sekali di luar pikiranku" dan menyebutnya seperti "halilintar di siang bolong".

Itulah sebabnya, Maya kemudian tidak mau menonton film Pengkhianatan G30S/PKI yang dulu setiap tahun ditayangkan di televisi pada masa Orde Baru.

Santi juga mengaku pernah "memukul" seorang kawannya saat SD karena dia juga dilabeli 'PKI'.

"Dan sedihnya saya melihat kok bapak saya seperti ini [dipenjara tanpa diadili] ya," ujarnya. Ayahnya dipenjara selama 12 tahun dan baru menghirup udara bebas pada 1978.

Bagi Maya, adanya stigma seperti itu tidak terlepas propaganda yang terus dihembuskan di zaman Orde Baru. "Padahal, mereka [yang menghinanya] tidak tahu apa-apa."

Pagi itu, ketika Santi dan saudara-saudaranya bermain di dalam rumah, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah halaman depan. "Keluar! Keluar!"

Ketika gonjang-ganjing G30S meletus, dan saat suaminya ditangkap di hadapan anak-anaknya yang ketakutan, dia sedang bertugas di luar negeri.

Sebelumnya, pada periode Revolusi Kemerdekaan, dia terlibat aktif memperjuangkan kemerdekaan dalam diplomasi di pelbagai forum internasional.

Baca juga: Gatot Mengaku Dicopot karena Film G30S/PKI, Moeldoko: Itu Pendapat Subyektif

Khusus peristiwa gonjang-ganjing 1965, dalam memoarnya berjudul Perempuan Revolusioner (2006, Yogyakarta: Galangpress), Francisca berujar pendek tapi bernada getir.

Enam bocah itu, dan satu orang lagi yang beranjak remaja, biasanya mengisi waktu luang dengan bermain — usai pulang sekolah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

"Saya kejar dia sampai rumahnya, saya tarik rambutnya. Anak itu sering ngatain saya [PKI]," kata Maya.

"Karena terus terang, saya sedih kalau mengingat ini," suara Santi bergetar, lalu seperti menahan tangis. "Saya selalu berdoa, kapan saya bisa bertemu ibu saya dan keadaannya seperti apa."

Dihantui ketakutan, pertanyaan tanpa ada jawaban ini kemudian mengiringi kepergian ayahnya — Supriyo, jurnalis kantor berita Antara — yang dinaikkan ke dalam truk.

Dia kemudian berujar, dalam kehidupan setiap orang, ada kalanya sang nasib mengubah arahnya.

Belakangan Francisca tidak bisa pulang ke Indonesia setelah paspornya dicabut oleh rezim Soeharto, karena dikaitkan dengan peristiwa G30S.

Walaupun begitu, bocah berusia tujuh tahun itu tak berpikir bahwa gelagat ayahnya itu terkait dengan kejadian genting beberapa hari sebelumnya yang juga tidak dia pahami.

Dalam atmosfer propaganda Orde Baru, tujuh bocah itu — dititipkan kepada beberapa keluarga dekat ibunya — tumbuh besar dalam stigma terkait latar belakang politik ibunya.

Baca juga: Kontroversi Dwight D Eisenhower, Presiden AS era Perang Dingin

Anak bungsu, Mayanti Trikarini — kelahiran 1962 — sulit melupakan momen-momen ketika dia mulai memahami bahwa ibu kandungnya tidak diketahui keberadaannya.

Peristiwa-peristiwa mendadak itu disebutnya "silih-berganti antara sukses dan kegagalan, kehilangan dan kemenangan, tawa dan air mata."

Baca juga: Soal Film G30S/PKI, Ini Saran Sejarawan UGM untuk yang Belum Pernah Menonton

Kalimat ini adalah penutup pada memoarnya yang ditulis oleh eks tapol 1965, Hersri Setiawan.

"Dan bahwa akan terjadi malapetaka besar, dan aku tidak akan pernah kembali untuk waktu yang sangat lama," akunya.

"Dia bilang 'dasar anak PKI', [lalu] saya pukul dia, sampai berurusan dengan kepala sekolah," ungkap Santi.

Usai ayahnya diciduk tentara di pagi bulan Oktober 1965 itu, tujuh anak itu kemudian diselamatkan oleh keluarga dekat ibunya, tapi stigma terkait ayah dan ibunya tidak otomatis sirna.

Ucapan Sisca itu dikutip oleh penulis buku itu dari film dokumenter r.i (2011) karya Andrew Dananjaya.

"Sampai sekarang setiap aku mengenang ke belakang, pada sekitar hari-hari itu, sulit untuk menahan genangan air mataku."

Baca juga: Keterlibatan Jerman dalam Aksi Pembantaian Massal Pasca G30S-1965 di Indonesia

"Saya merasa ibu saya tidak salah kok. Ini hanya politik. Bapak saya [setelah dibebaskan] yang sering beritahu," cetusnya.

"Setiap kali ada persekutuan doa, yang selalu saya doakan adalah ibu saya," ungkap Santi yang mulai aktif di gereja ketika beranjak remaja.

"Setiap saya cerita masa lalu itu, aduh, saya berharap jangan ada lagi peristiwa itu. Biar kita saja," ungkap Nusa saat dihubungi BBC News Indonesia, pertengahan September lalu.

Seperti penangkapan ayahnya yang menimbulkan pertanyaan tak terjawab oleh anak-anaknya, keberadaan sang ibu yang tanpa kabar sama-sekali, membuat anak-anaknya menderita selama bertahun-tahun.

KOMPAS.com - Peristiwa berdarah G30S 1965 (G30S/PKI) memisahkan Francisca Fanggidaej dari anak-anaknya yang masih bocah, karena dia tidak dapat pulang setelah paspornya dicabut. Bagaimana anak-anaknya bisa bertahan dan menunggu 38 tahun untuk bertemu kembali dengan ibu mereka?

Kejadian lainnya yang disebutnya begitu membekas adalah ada foto-foto ibunya dalam ukuran besar yang ditempel di dinding sebuah rumah. Dia selalu melewatinya setiap berangkat dan pulang sekolah.

Dan waktu terus berjalan. Memasuki bangku SMA, Maya sengaja memilih tidak bergaul secara mendalam dengan teman-temannya agar tidak sering ditanya "bapak dan ibu di mana".

Dia terpisah dengan suami dan anak-anaknya dan harus menunggu lebih dari 35 tahun untuk berkumpul kembali.

Beberapa catatan menyebutkan, dia lantas berpindah-pindah dari Kuba, China (selama 20 tahun), hingga mendarat di Belanda pada 1985, dengan menggunakan paspor sementara dari Kuba, pemberian Fidel Castro.

"Waktu itu beritanya, masih simpang siur. Ada yang mengatakan [ibu] meninggal, atau apalah.

"Dan kita terpaksa menapaki jurusan lain dalam perjalanan kehidupan kita," ujar Sisca — panggilan akrabnya — yang dilahirkan di Noel Mina, Timor, 16 Agustus 1925.

"Sama sekali aku tidak tahu, apalagi mengerti," akunya.

"Tahun itu memang menjadi tahun yang tak pernah berakhir bagi Francisca, di mana dia harus meninggalkan kehidupannya, pekerjaaannya, dan keluarganya karena situasi politik," papar Norman Joshua di bagian epilog buku itu.

Adapun rumah yang dibangun dari tabungan gaji Francisca sebagai anggota DPR itu disita dan isinya dijarah. Tujuh anak itu berhasil diselamatkan hanya dengan pakaian yang menempel di badan.

Maya, sang anak bungsu, kala itu tak luput dari stigma dari sebagian masyarakat. Dia teringat ketika ada salah-seorang temannya di sekolah dasar menyebutnya 'PKI'.

Baca juga: Sejarawan UGM Tanggapi Kontroversi Penyiksaan Para Jenderal di Film G30S/PKI

Di usia 80 tahun, di sebuah acara terbatas pada 21 Agustus 2005 di negeri Belanda, Francisca membuat semacam kesaksian terkait apa yang dialaminya selama hidupnya.

"Karena akan ada pertanyaan, 'Mama mana, bapak mana?' Itu selalu [ditanyakan]," Maya berujar pelan, seraya menarik napas panjang.

Sisca di masa-masa genting itu memang lebih banyak di luar negeri. Pada 1964, sebagai anggota DPR-GR di Komisi Luar Negeri, dia ikut rombongan Presiden Sukarno untuk menghadiri persiapan Konferensi Asia Afrika ketiga di Aljazair.

Baca juga: David Bayu Terkesima Video Dubbing Flux Cup Parodikan Rapat G30S/PKI

"Pada waktu itu, saya mulai [bertanya-tanya], 'ada apa ya [terhadap ibu saya]. Itu sangat membekas," ungkap Santi.

"Sebagai seorang ibu, saya meninggalkan anak-anak saya yang waktu itu masih kecil. Ini bukan demi saya, tapi untuk keselamatan mereka!"

Dia kemudian terbang ke Helsinki untuk menghadiri Konferensi Perdamaian Sedunia pada 1965.