European online betting_Indonesian odds_British Gaming Industry

  • 时间:
  • 浏览:0

Ah, saRRecommended beRecommended betting platformtting platformecommended betting platformyanRecommended betting platformg, apakah mRecommended betting platformimpimu malam ini sama seperti mimpiku?

Selepas aku memejamkan mata, aku bermimpi. Mimpiku nampak aneh karena aku pernah mengalaminya beberapa tahun silam. Ah ya, aku memimpikan perjumpaan kita petang itu. Kala kita masih berada dalam kota yang sama. Ketika perjalanan dari rumahmu ke rumahku bisa ditempuh dengan motor bututmu tak lebih dari setengah jam lamanya.

“Aku mohon bertahanlah. Kitalah yang harus bisa menaklukan jarak yang terbentang dan tidak berpasrah pada keadaan.”

Kalimatmu seperti perpaduan lalat dan mata samurai. Mengganggu, karena terus menerus berdengung memenuhi rongga telinga. Menyakitkan, karena kata-katanya tajam bagai bilah yang tepat menusuk ulu hatiku.

Aku, kamu, bersumpah untuk tak bertekuk lutut pada jarak dan keadaan. Perjuangan kitalah yang akan menaklukannya.

Memang kita sedang gusar petang itu. Tak ada rentetan kata sayang yang dilumuri dengan pemanis yang kita lontarkan. Aku dan kamu sedang dibelit jengah. Hingga yang ada hanyalah celah yang dipenuhi amarah. Lalu, kalau sudah begini siapa yang salah? Jarak yang membentangkah?

Bagaimana bisa kamu menyerah pada keadaan? Semudah itukah rasa cintamu tergoyahkan? Atau karena memang jaraklah yang sudah keterlaluan?

Aku bangun, bermandi peluh. Namun pikiranku segar, seperti ada yang baru saja mengguyurkan sebaskom es buah di otakku. Kutengok jam weker warna biru di samping kasurku. Baru 3 jam lamanya aku terlelap. Terimakasih ku ucapkan kepada alam bawah sadarku. Telah memutar ulang kenangan yang sedang kubutuhkan.

Kala itu senja, aku baru saja mandi dan mematut diri di depan kaca. Kudengar deru motormu masuk di pelataran rumahku, aku buru-buru beranjak. Berharap semoga kau suka dengan paras yang sudah kutaburi sedikit bedak. Ah senja itu memang terakhir kalinya kita bertatap muka sebelum keesokan harinya kita mulai dipisahkan jeda. Sehingga tak salah jika aku ingin tampil sedikit istimewa.

Jarak boleh menyisakan tanda. Namun, aku yakin, di depan sana, rencana yang indah sudah menanti. Aku mohon, jangan menyerah sekarang. Ada masa depan cerah yang menanti di depan.

“Apa bisa kita menjalin hubungan jarak jauh? Aku gak kuat kalau terus kaya gini. Apa mungkin harus kita sudahi saja?”

Yakinkah sekarang engkau ingin menyerah? Ah, sayang, aku mohon, jangan. Aku tidak sanggup mendengar tawa jumawa dari jarak yang akan menertawakan kita. Aku tidak ingin melihat kita babak belur dihajar jeda. Kita yang kala itu sangat congkak ingin mengalahkan justru berlutut memohon ampunan.

Semoga kau kembali memahami, bahwa jatuh bangun yang sekarang kita lalui adalah demi berusaha untuk hidup di masa depan.

Senja itu dipenuhi pengharapan dan janji suci. Jam dinding di ruang tamu serta cicak yang tak sengaja lewat adalah saksi.

Malam itu memang kita beradu argumen hebat. Meski hanya lewat gagang ponsel, namun tetap saja kata-katamu menusuk gendang telinga kemudian meluncur terus hingga menabrak ulu hatiku. Menyentaknya dengan satu sepakan dan membuatnya luluh lantak menjadi keping tak beraturan.

Setiap pulang kerja, sebenarnya aku ingin kamu ada. Bisa mengusap wajahmu yang lelah setelah seharian berkutat di depan layar, atau sekadar bertanya bagaimana kabarmu yang didera kesibukan tak ada habisnya.

Bersediakah kau bertahan?

Maukah kau untuk tak gampang menyerah?

Hanya itulah yang bisa kulontarkan untuk meredam rasa kesalmu. Jika saja aku ada di sampingmu malam itu, sudah kusumbat bibirmu dengan kecupanku. Meredam amarah sekaligus menenangkanmu, memadamkan segala keraguan yang bercokol disana. Namun aku bisa apa jika kita dipisahkan ribuan kilometer? Bertatap muka saja tak mampu, apalagi meraihmu ke dalam pelukanku.

Tentu tidak ada pertengkaran di sana. Kita bahkan saling mengucap janji supaya saling setia. Toh ini semua demi kebaikan berdua. Demi mengumpulkan pundi rupiah untuk masa depan, katamu. Supaya kelak kita bisa menabung demi pernikahan dan membeli ini itu, kataku.

Aku mohon bangkitlah sayang, kita kembali bertautan tangan untuk menghajar mereka. Tidak apa jika kamu ingin beristirahat sejenak karena kelelahan. Namun, tolong, jangan sekalipun menyerah dan menghentikan langkah.

Sayang, tiap kali kau terbelit jengah, ingatlah bahwa hatiku masih kutitipkan padamu begitu pula hatimu yang masih kujaga supaya bentuknya tetap utuh. Yakinkan dirimu bahwa suatu saat perjuangan kita akan terbayar lunas. Kita memang tidak bisa makan cinta, untuk itulah kita butuh bekerja untuk terus menghidupinya.

Aku tahu, tidak mudah memang untuk menjalin cinta yang dipisahkan ribuan kilo jeda. Jika ditanya rasanya beban di dadaku sudah tak terhitung bebannya.

Malam itu aku tertidur sembari mendekap fotomu di layar ponselku.

Hatiku menghangat menyadari betapa cinta kita adalah kuat. Betapa aku dan kamu dulu pernah berjanji untuk bahu membahu menghajar jarak yang membentang. Menunjukkan bahwa kita bisa mengalahkan tantangan dan akan keluar sebagai pemenang.